|
Oleh Ferdias Ramadoni
|
|
Saturday, 15 November 2008 09:39 |
|

|
|
Last Updated on Thursday, 20 November 2008 15:54 |
|
Read more...
|
|
Oleh Masfuri S.Kp MN
|
|
Monday, 03 November 2008 19:00 |
|
Tulisan ini bukan pembelaan perawat, in hanya respon atas komentar pembaca pada situs ini dan blog saya (masfuri.wordpress.com), tapi ini hanya bangian kecil dari renungan saya sebagai perawat yang bekerja bersama dokter.  Pertama saya katakana bahwa terima kasih anda para dokter telah memberi masukan atas kinerja para rekan kami perawat, terutama yang bekerja bersama anda. Banyak dari mereka memeng membutuhkan up grade atas ilmunya, karena mereka bahkan hingga menjelang pension mungkin belum pernah mendapatkan pelatihan atau seminar. Dana dari atas mungkin ada, tetapi peruntukanya mungkin di ‘pelintir’ untuk kepentingan lain oleh oknum-oknum yang tidak mengerti betapa pentingnya perawat bagi sebuah tim kesehatan yang efektif untuk anak bangsa. Feedback anda sangat membantu saya untuk berkaca dan membuat mata saya berkaca-kaca karena sedih, betapa banyak rekan perawat saya belum bisa secara optimal bekerja. Perawat telah mencoba memperbaiki kompetensinya dengan salah satu caranya adalah meningkatkan level pendidikan. Pendidikan D3 keperawatan hingga S3 diharapkan bisa menjadi partner untuk menyelesaikan masalah pasien yang semakin komplek dari sudut pandang yang seorang perawat. Selama ini, banyak sekali ketimpangan antara dokter dengan pendidikan minimal 6 tahun di tingkat universitas, sementara banyak dari kami yang lulus hanya SPK, kemudian D3 keperawatan. Sehingga wajar bahwa mereka secara pola pikir dan analisis berbeda atau bahkan ketinggalan dengan dokter. Sayangnya, pertumbuhan jumlah perawat yang baik dan pintar tidak secepat membalikan telapak tangan. Dengan tingkat analisa dan berpikir kritis yang setara, namun dari sudut pandang yang berbeda, diharapkan akan terjadi harmoni kerja yang lebih baik dalam menentukan tindakan untuk pasien. Seperti dinegara Eropa dan Australia dimana saya pernah belajar disana, banyak sekali keputusan untuk pasien adalah hasil diskusi bersama antara perawat, dokter dan profesi lain seperti farmasi dan fisioterapi. Kami sangat berterima kasih bila demi kepentingan pasien, anda memotivasi rekan kami perawat untuk belajar lebih baik tentang pekerjaan dan tanggung jawab mereka.
|
|
Last Updated on Thursday, 06 November 2008 16:18 |
|
Read more...
|
|
Oleh Masfuri S.Kp MN
|
|
Monday, 03 November 2008 18:56 |
|
Masfuri Menjadi profesional ádalah dambaan setiap perawat. Tapi.., samakah perawat yang baik dengan yang profesional? Kalau tidak sama, dimanakah letak perbedaaanya? Sebagai perawat saya sering bertanya dalam hati, apakah saya telah menjalankan peran saya dengan baik? Baik menurut siapa? Saya?! Ahk itu terlalu subjektif dan naif sekali. Mungkinkan ada orang yang bisa menampilkan hal terbaik untuk semua, setiap saat, setiap tempat? Baik menurut teman sekerja, baik menurut mahasiswa, baik menurut pasien dan baik menurut profesi kesehatan lain, katakanlah dokter. Ahh, bahagía rasanya bila ada orang yang bisa menjelaskan hal tersebut untuk saya. Tapi, bila memang ada yang bisa menjelaskan, apakah kemudian saya bisa menjalankanya? Wah, mencari penjelasan saja sulit, apalagi menjalankanya! Tahun 1997 adalah tahun awal saya praktek sebagai sarjana perawat. Saya merawat 6-8 pasien bersama oleh 1-2 orang perawat SPK. Satu kisah menarik diawal-awal perkerjaan saya adalah merawat pasien katakanlah Bapak Sero (samaran). Dia dirawat dengan serosis hepatis dengan perdarahan saluran cerna atas (varises esophagus?). Dokter memberikan instruksi untuk melakukan monitoring tanda vital tiap 4 jam, irigasi lambung tiap 6 jam dan puasa, disamping beberapa pemeriksaan dan obat. Saya mengerti betul alasan dokter memberikan instruksi tersebut. Tanda-tanda vital (TTV) seperti tekanan darah, nadi dan suhu serta pernafasan saya monitor betul, bahkan tiap 2 jam. Karena saat saya perhatikan kondisi pasien tidak stabil, NGT kadang keluar darah, kadang tidak. Bila terjadi perdarahan internal yang hebat, akan terdeksi dengan monitoring TTV yang baik. Tingkat kesadaran dan kognitif pasien juga fluktuatif. Mungkinkah itu karena level bilirubin yang tinggi? Atau hasil pencernaan darah akibat pecahnya varises di dalam saluran pencernaan yang menghasilkan sesuatu yang meracuni otak? Akh, rasanya walupun dokter tidak pernah mengintruksikan saya untuk monitoring tingkat kesadaran, tidak salahnya saya melakukan itu (ensepalopati hepatik?). Pasien tampak kurus, warna kulit agak kehijauan dan kering dengan perut sedikit membuncit. Oh ya, mungkin albumin juga telah rendah, ”Bisa asites juga nih pikirku.” Maka saya kembali ke ruang perawat untuk mengambil meteran dan mengukur lingkar perut Pak Sero. Bukankah hanya satu paket monitoring, sedikit tambahan beberapa detik akan sangat membantu analisa perkembangan kondisi pasien. Siapa tahu juga bermanfaat bagi dokter nantinya.
|
|
Last Updated on Wednesday, 05 November 2008 12:31 |
|
Read more...
|
|
Oleh Agus Setiawan
|
|
Friday, 24 October 2008 13:38 |
|
Oleh: Agus Setiawan* Fenomena yang muncul belakangan ini menimbulkan pertanyaan banyak pihak, khususnya insan keperawatan Indonesia. Fenomena tersebut diantaranya adalah rendahnya penyerapan lulusan keperawatan di instansi negeri maupun swasta sementara lulusan perawat yang lulus dari perguruan tinggi terus bertambah. Untuk saat ini, lulusan tenaga perawat hanya sekitar 20% yang dapat terserap untuk bekerja di dalam negeri (BPPSDM Depkes RI, 2008). Selain itu, banyak tenaga perawat Indonesia yang memilih untuk bekerja di luar negeri dengan berbagai alasan (Kompas.com, 5 Agustus 2008). Pilihan untuk bekerja di luar negeri adalah keputusan yang sangat wajar karena mendapatkan penghasilan yang lebih baik adalah dambaan setiap orang. Namun hal tersebut tetap meyisakan pertanyaan yang perlu untuk direnungkan, mengapa mereka tidak mendapatkan hal tersebut di dalam negeri? Apakah mereka tidak lagi mampu bersaing dalam industri kesehatan di dalam negeri? Pertanyaan tersebut bermuara pada suatu renungan, bagaimana masa depan perawat dalam berkiprah di industri kesehatan di Indonesia? Sebelum menelaah lebih jauh permasalahan tersebut, penulis mengajak pembaca untuk menganalisa mengapa perawat harus bersaing dalam industri kesehatan di dalam negeri. Untuk dapat eksis dan berkembang di masa depan, perawat haruslah mempunyai daya saing dan nilai tawar yang tinggi. Pada hakekatnya, hidup ini adalah persaingan atau kompetisi. Mereka yang dapat survive adalah mereka yang mempunyai daya saing yang tinggi. Persaingan adalah hal yang tidak bisa kita hindari bahkan sebelum kita dilahirkan oleh ibu kita di muka bumi ini. Kita diciptakan oleh Allah SWT dari sebuah sperma yang terbaik yang mengalahkan ribuan bahkan jutaan sperma lain yang berhasil membuahi satu sel telur saja. Ketika kita lahir sampai sekarang, persainganpun harus kita lalui, dari mulai masuk sekolah sampai dengan mendapatkan pekerjaan. Persaingan itupun terus berlanjut di tempat kerja kita untuk terus berprestasi dan mendapatkan posisi yang terbaik dalam karir.
|
|
Last Updated on Friday, 24 October 2008 14:10 |
|
Read more...
|
|
Oleh Ferdias Ramadoni
|
|
Tuesday, 07 October 2008 09:13 |
|
Anda punya blog yang ingin Anda publikasikan? berarti Anda beruntung, karena telah hadir sebuah Blog Aggregator yang dipersembahkan oleh sebuah blog komunitas untuk perawat. Untuk bisa mempublikasikan blog Anda, cukup dengan mendaftarkan blog Anda di Aggregator.perawat.web.id banyak keuntungan yang Anda dapat dengan mendaftarkan blog Anda pada sebuah Blog Aggregator semacam ini, diantaranya adalah blog Anda akan dengan sangat mudah diakses orang lain, karena tidak usah repot-repot berkunjung langsung ke blog Anda. Oke, tanpa harus berpanjang lebar, langsung saja kunjungi Nursing Aggregator Blog dan daftarkan blog Anda segera.
|
|
|
buat temen2 yng pengen info tkhi 2008...
Hallooow............(\":angry...
saya senang bergabung dengan komunita...
Doni, sorry ane baru nongol lagi. Uda...
keren